Unduh
0 / 0
954329/09/2008

Apakah Boleh Kita Mengatakan Bahwa Husain Meninggal Syahid?

Pertanyaan: 112051

Apakah boleh kita mengatakan bahwa husain mati shahid ?

Puji syukur bagi Allah, dan salam serta berkat atas Rasulullah dan keluarganya.

Ya,
Husain –radhiyallahu ‘anhu- terbunuh dalam keadaan syahid.

Hal itu dikarenakan bahwa
penduduk Irak (Kufah) menulis surat kepada beliau agar beliau keluar menemui
mereka untu dibaiat menjadi pemimpin, tepatnya setelah meninggalnya
Mu’awiyah –radhiyallahu ‘anhu-, dan naiknya anaknya Yazid bin Mu’awiyah.

Kemudian penduduk Kufah
berubah ingin membaiat Husain, setelah mereka mendapatkan gubernur
Ubaidillah bin Ziyad dari pihak Yazid bin Mu’awiyah. Ia membunuh Muslim bin
Aqil utusan Husain kepada mereka, karena hati masyarakat Kufah cenderung
kepada Husain, namun pedang mereka cenderung kepada Ubaid bin Ziyad.

Maka Husain keluar untuk
menemui mereka, ia tidak mengetahui kalau Muslim bin Aqil, dan perubahan
sikap mereka kepadanya.

Sebenarnya ia telah
mendapatkan masukan dari beberapa orang yang mencintainya dan yang memiliki
pandangan jauh kedepan agar beliau tidak pergi menuju Irak, namun ia
bersikeras untuk menemui mereka.

Di antara mereka yang
memberinya saran adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abu Sa’id al
Khudri, Jabir bin Abdullah, al Masrur bin Makhramah, Abdullah bin Zubair –radhiyallahu
‘anhum jami’an-.

Maka berjalanlah Husain
menuju Irak, dan singgah di Karbala, ia mengetahui bahwa penduduk Irak
mengingkarinya. Maka Husain meminta salah satu dari tiga hal kepada pasukan
yang datang ingin membunuhnya:

1.Membiarkannya
kembali ke Makkah

2.Atau
mengizinkannya untuk menemui Yazid bin Mu’awiyah

3.Atau
mengizinkannya untuk pergi ke daerah perbatasan untuk berjihad di jalan
Allah.

Mereka menolak, dan meminta
ia menyerahkan diri kepada mereka. Husain menolak, lalu mereka membunuhnya,
sebagai seorang yang didzolimi dan syahid –radhiyallahu ‘anhu-. (Al Bidayah
wan Nihayah: 11/473-520)

Syekh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-
berkata:

“Yazid bin Mu’awiyah
dilahirkan pada masa pemerintahan Utsman bin Affan –radhiyallahu ‘anhu-, dan
tidak pernah bertemu dengan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga tidak
termasuk sahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana
telah disepakati oleh para ulama, ia juga tidak terkenal sebagai seorang
yang sholeh dan mengerti banyak tentang agama, ia sebatas sebagai pemuda
kaum muslimin, ia juga bukan seorang yang kafir dan zindiq, ia menjadi
pemimpin menggantikan ayahnya tidak disepakati oleh semua kaum muslimin,
sebagian menolaknya dan yang lain mendukungnya, ia seorang yang pemberani,
dermawan, tidak nampak sebagai seorang yang bengis dan kejam seperti yang
kisahkan oleh musuh-musuhnya.

Dalam kepemimpinannya telah
terjadi beberapa kejadian besar: Diantaranya adalah terbunuhnya Husain –radhiyallahu
‘anhu-, dan tidak atas perintah Yazid bin Mu’awiyah, ia juga tidak nampak
senang dengan terbunuhnya Husain, juga ia tidak memotong gigi seri beliau –radhiyallahu
‘anhu-, juga tidak membawa kepala Husain ke Syam, akan tetapi ia menyuruh
untuk mencegah Husain, dan menjauhkannya dari urusan ini. Kalau saja
perintah Yazid untuk membunuhnya, maka akan semakin banyak pendukung Husain.
Maka dari itu Husain –radhiyallahu ‘anhu- meminta ia menghadap Yazid, atau
berangkat ke daerah perbatasan untuk berjihad di jalan Allah atau kembali ke
Makkah. Namun mereka melarangnya kecuali untuk menjadi tawanan mereka, Umar
bin Sa’d menyuruh untuk membunuhnya. Lalu mereka membunuhnya dalam keadaan
didzalimi, ia dan sekelompok dari ahlul bait –radhiyallahu ‘anhum-.
Terbunuhnya Husain adalah termasuk musibah yang besar, karena terbunuhnya
Husain dan terbunuhnya Utsman sebelumnya, adalah penyebab terbesar akan
terjadinya fitnah di tengah umat Islam, dan para pembunuh keduanya adalah
seburuk-buruknya makhluk disisi Allah”. (Majmu’ Fatawa: 3/410-413)

Beliau juga berkata
(25/302-305):

“Ketika Husain bin Ali –radhiyallahu
‘anhuma- dibunuh pada hari Asyura’ oleh sekelompok orang-orang yang dzalim
dan berbuat aniaya. Maka Allah memuliakan Husain dengan syahid di jalan-Nya,
sebagaimana Dia memuliakan sebagian dari ahli baitnya, Hamzah, Ja’far, dan
ayahnya, yaitu; Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya. Allah meninggikan
derajat Husain dan saudaranya Hasan, bahwa keduanya adalah pemimpin para
pemuda surga, derajat yang tinggi tidak akan diraih kecuali dengan bala’ dan
ujian. Sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika
ditanya: Siapakah yang lebih berat ujiannya ?, beliau menjawab:

الأنبياء ، ثم الصالحون ، ثم الأمثل فالأمثل . يبتلى الرجل على
حسب دينه ، فإن كان في دينه صلابة زيد في بلائه ، وإن كان في دينه رقة خفف عنه
، ولا يزال البلاء بالمؤمن حتى يمشي على الأرض وليس عليه خطيئة (رواه الترمذي
وغيره)

“Para Nabi, kemudian
orang-orang shaleh, kemudian yang serupa dengan mereka, demikian seterusnya.
Seseorang diuji sesuai dengan derajat agamanya, jika ia komitmen dengan
agamanya maka ujiannya akan ditambah, dan jika ia kurang komitmen dengan
agamanya maka ujiannya pun dikurangi. Ujian itu akan senantiasa menimpa
seorang mukmin sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun”. (HR.
Tirmidzi)

Sedangkan Hasan dan Husain
sebelumnya sudah mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, namun
mereka berdua belum merasakan ujian sebagaimana yang telah dirasakan oleh
orang-orang sebelumnya, keduanya dilahirkan pada masa jayanya Islam, tumbuh
dengan penuh kemuliaan, umat Islam menghormatinya, dan memuliakannya,
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada saat keduanya belum baligh.
Maka merupakan nikmat Allah kepada keduanya dengan mengujinya agar menyusul
derajat ahlu baitnya, sebagaimana pernah diujikan kepada orang yang lebih
afdlol dari keduanya, yaitu Ali bin Abi Thalib yang juga dibunuh dan
meninggal dunia sebagai syuhada, tentu beliau lebih afdlol dari mereka
berdua. Terbunuhnya Husain adalah pemicu utama menyebarnya fitnah pada umat
Islam, dan karena itulah umat Islam terpecah belah sampai sekarang.

Ketika Husain –radhiyallahu
‘anhu- keluar dan mengetahui bahwa situasinya sudah berubah, ia meminta
untuk membiarkannya kembali atau bergabung dengan para mujahidin di wilayah
perbatasan, atau menemui saudara seimannya Yazid agar ia memutuskan
perkaranya, sampai beliau ditahan. Namun mereka memeranginya, beliau juga
bertahan dan membela diri, akan tetapi mereka membunuhnya dan semua orang
yang bersama beliau dalam keadaan didzolimi dan sebagai syuhada. Syahadah
yang Allah memuliakan beliau dengannya; agar menyusul ahlul bait yang baik
nan suci yang telah mendahuluinya. Dan Allah menghinakan orang-orang yang
mendzaliminya dan memusuhinya”.

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android