Unduh
0 / 0
3053930/07/2010

APAKAH MENJADI IBADAH KALAU TANPA NIAT

Pertanyaan: 151753

Apakah benar ungkapan ini ‘Bershalawat kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam itu ibadah yang tidak perlu niat’. Jika salah, apakah ada ibadah yang tanpa niat?

Puji syukur bagi Allah, dan salam serta berkat atas Rasulullah dan keluarganya.

Tidak diragukan lagi, bahwa shalawalat kepada Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam merupakan ibadah yang paling mulia dan
sebaik-baik kebaikan. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (سورة الأحزاب: 

56)

“Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Diriwayatkan oleh Muslim, no. 408 dari Abu Hurairah
radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam
bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Siapa  yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan
mendoakan (bersholawat) kepadanya sepuluh kali.”

Maka shalawat kepada Nabi sallallahu’alaihi wasallam adalah
ibadah. Ungkapan bahwa disana ada ibadah yang tidak memerlukan niat adalah
ungkapan tidak benar. Bahkan semua ibadah harus ada niat Yaitu seorang hamba
melakukan suatu amal dengan niat  karena Allah semata.

Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907 dari
Umar bin Khattab radhiallahu anhu, dia berkata, aku mendengar Rasulullah
sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguuhnya setiap amal itu
tergantung niat. Dan setiap orang tergantung apa yang diniatkannya.’

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Mayoritas Ulama pakar bahasa
Arab dan Ushul, serta dari spesialis lainnya berpendapat bahwa kata ‘Innama’
(إنما) 
berguna untuk pengkhususan, yaitu menetukan yang disebut serta meniadakan
selainnya. Maka perkiraan makna hadits ini adalah ‘Sesungguhnya amal akan
dicatat sesuai dengan niatannya, dan tidak dianggap jika tanpa niat. Di
dalamnya terdapat dalil bahwa bersuci; yaitu wudhu, mandi, tayamum itu tidak
sah kecuali dengan niat. Begitu juga shalat, zakat, puasa, haji dan ibadah
serta seluruh ibadah.”

Dari sini jelas, bahwa semua ibadah tidak sah kecuali dengan
niat karena Allah. Kalau hal itu dibarengi dengan mengikuti petunjuk
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, maka amal itu akan diterima.
Sebagaimana firmanNya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا
يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (سورة الكهف:
110)

“Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah
kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ibnu Qayim rahimahullah berkata: “Ini adalah amal yang diterima. Amal tidak akan diterima kecuali dengannya. Yaitu bahwa amal harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah dan hanya ingin mencapai rida Allah.’
(Miftah Darus Sa’adah, 1/85)

Wallahu ta’ala a’lam.

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android
at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android