Unduh
0 / 0

Makna Firman Allah: ( وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ … ) “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul”. Dan Menjawab Kelompok Rafidhah

Pertanyaan: 125877

Bagaimanakah penafsiran firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? “. (QS. Ali Imran: 144)

saya pernah membaca tafsir orang-orang Syi’ah pada ayat ini, bahwa mereka menuduh para sahabat –radhiyallahu ‘anhum-, maka saya menjadi bingung karena belum mengetahui penafsiran yang benar. Bagaimanakah penafsiran ayat ini menurut penafsiran kita , Apakah ada salah seorang dari mereka yang murtad sepeninggal Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ? Siapakah mereka? Apakah penyebutan hadits berikut ini:

ما تدري ماذا فعلوا من بعدك

“Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”.

Bisa diterapkan kepada mereka yang dilahirkan setelah masa Rasulullah ?, yaitu; bahwa Rasulullah belum menyaksikan keshaihan mereka , bagaimana dikatakan: “setelahmu” ?

Puji syukur bagi Allah, dan salam serta berkat atas Rasulullah dan keluarganya.

Adapun firman Allah –Ta’ala- :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ
الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئاً
وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ  (سورة آل عمران: 144)

“Muhammad itu tidak lain
hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang
rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang
(murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 144)

Ayat di atas adalah termasuk
ayat muhkamat, untuk mengetahui maknanya dengan rinci, kami sebutkan
beberapa hal berikut ini:

1.
Ayat-ayat di atas diturunkan setelah perang Uhud, ayat tersebut adalah
muqaddimah dan persiapan untuk menghadapi wafatnya Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam-, di dalamnya terdapat pengingat bahwa Islam tidak boleh
berhenti dengan wafatnya atau terbunuhnya Nabi kalian, ayat di atas juga
menjelaskan apa yang terjadi kepada para Nabi terdahulu bahwa terbunuhnya
mereka tidak mempengaruhi pengikut mereka, peringatan dan pengingat tersebut
tidak akan bermanfaat bagi mereka yang murtad dari beberapa kabilah, maka
mereka akan merasakah kerugian di dunia dan di akherat.

            Ibnul Qayyim
–rahimahullah- berkata: “Perang Uhud merupakan muqaddimah, dan kejadian luar
biasa sebelum meninggalnya Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam-, maka
Allah menjadikan mereka tsabat (tegar),  pada waktu yang sama Dia mencela
kemurtadan mereka jika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah
meninggal dunia atau terbunuh. Maka menjadi kewajiban mereka agar tsabat
terhadap agama-Nya, mengesakan-Nya, dan meninggal dalam keadaan bertauhid,
atau terbunuh dalam keadaan bertauhid, karena mereka menyembah Rabb
Muhammad, Dia Maha Hidup tidak meninggal dunia, maka jika Nabi Muhammad
meninggal dunia atau terbunuh, maka tidak sepatutnya mereka kembali murtad
dari agama Islam dan apa yang dibawanya, Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Tidaklah diutusnya Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- agar menjadi kekal, tidak juga beliau atau mereka, namun agar
semuanya meninggal dunia dalam keadaaan Islam dan bertauhid, karena kematian
adalah kepastian, baik Rasul sudah meninggal atau belum. Maka dari itu Allah
mencela kemurtadan mereka yang murtad pada saat syaithan berteus terang:
“Sesungguhnya Muhammad telah terbunuh”. Maka Allah berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ
الرُّسُلُ أَفَإن مَّاتَ أوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن
يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِى اللهُ
الشَّاكِرِينَ (سورة آل عمران: 144)

“Muhammad itu tidak lain
hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang
rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang
(murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 144)

Orang-orang yang bersyukur:
adalah mereka yang mengetahui nilai dari kenikmatan, maka mereka akan tegar
menghadapinya sampai akhir hayat atau terbunuh, maka celaan di atas memiliki
dampak yang nyata. Hukum ayat di atas terbukti pada saat meninggalnya
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sebagian orang menjadi murtad,
sedangkan orang-orang yang bersyukur mereka tetap tegar berada pada agama
mereka, maka Allah memberikan pertolongan kepada mereka dan memuliakan
mereka, menjadikan mereka memenangkan peperang dengan musuh-musuh Allah. dan
kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Kemudian Allah menjadikan
bagi setiap jiwa yang hidup batas akhir yang akan ditemuinya, maka semua
orang akan mendatangi kematian tersebut, meskipun berbeda penyebab
masing-masing dari mereka, mereka mendatangi peristiwa kiamat dari berbagai
kondisi, maka sebagian masuk surga dan sebagian yang lain masuk ke neraka.

Kemudian Allah juga
mengabarkan ada banyak dari para Nabi-Nya terbunuh, juga banyak terbunuh
dari para pengikutnya, maka yang tersisa dari mereka tidak merasa lemah
karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak
pula menyerah kepada musuh. Mereka tidak merasa lemah ketika berperang,
tidak lesu dan tidak menyerah, bahkan mereka menjemput syahid dengan penuh
kekuatan, azam dan maju, mereka tidak menjemput syahid dengan cara kabur,
menyerah dan hina, namun mereka menjemputnya dengan kemuliaan, keperkasaan,
maju tidak mundur. Yang benar bahwa ayat di atas mencakup kedua kelompok
tersebut. (Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khiril ‘Ibaad: 3/224-225).

2.Ayat
ini menunjukkan tazkiyah (rekomendasi) untuk Abu Bakar ash Shiddiq secara
khusus, dan para sahabat yang mulia secara umum. Yang menjadikan Allah
mensifati mereka orang-orang yang tegar dalam menghadapi musibah ini. Dia
juga mengetahui bahwa Nabi-Nya adalah manusia yang bertugas menyampaikan
risalah Allah, kemudian meninggalkan dunia. Allah mensifati mereka dengan
“Asy Syakirin” (sebagai orang-orang yangbersyukur). Adapun bahwa ayat ini
mengandung taziyah untuk Abu Bakar ash Shiddiq, bisa dilihat dari dua sisi:

            Pertama:
Menjadikan ayat di atas sebagai dalil, ditambah firman Allah –Ta’ala-:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

            “Sesungguhnya
kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (QS. Az Zumar: 30)

            Pada saat
wafatnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

            Kedua: Agar
memerangi mereka yang murtad.

            Syeikh Abdur
Rahman as Sa’di –rahimahullah- berkata:

            Di dalam ayat
yang mulia ini terdapat petunjuk dari Allah –Ta’ala- kepada hamba-hamba-Nya,
agar mereka berada pada kondisi keimanan yang tidak mudah goncang dan rapuh
menjaga konsekuensinya, meskipun kehilangan pemimpin atau lainnya. Yang
demikian itu tentu membutuhkan persiapan dalam segala urusan agama melalui
beberapa orang yang memiliki keahlian di dalamnya, dan jika salah satu dari
mereka gugur maka yang lain pun segera menggantikannya, dan seharusnya semua
umat mukmin secara umum agar berusaha menegakkan agama Allah, dan jihad di
dalamnya, sesuai kemampuannya, tidak memiliki tujuan pada satu pemimpin dan
tidak pada pemimpin yang lain, kondisi seperti ini yang menjadikan urusan
mereka jelas dan lurus.

Ayat ini juga merupakan dalil
yang kuat akan keutamaan ash Shiddiq al Akbar Abu Bakar dan para sahabatnya
yang memerangi para murtadin setelah wafatnya Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- ; karena mereka adalah tuan dari orang-orang yang
bersyukur. (Tafsir as Sa’di: 150)

Dengan demikian menjadi jelas
bahwa para sahabat yang agung telah mengambil pelajaran berharga dari
peristiwa “Uhud”, benturan keras yang menimpa sebagian mereka karena
wafatnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak menjadikan mereka
murtad kembali, namun karena mereka tidak mampu mendengarkan berita besar
tersebut, hingga Allah menetapkan kembali (hati mereka) dengan ayat yang
jelas yang diperdengarkan kepada mereka melalui Abu Bakar ash Shiddiq, dan
mengabarkan kepada mereka akan tsabatnya orang-orang mukmin:

… فَحَمِدَ اللَّهَ أَبُو بَكْرٍ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ
أَلَا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ
حَيٌّ لَا يَمُوتُ وَقَالَ إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ وَقَالَ
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ
مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى
عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
قَالَ فَنَشَجَ النَّاسُ يَبْكُونَ … (رواه البخاري، رقم 3670)

“…..Maka Abu Bakar
memanjatkan puja dan pujinya kepada Allah dan berkata: “Ketahuilah, barang
siapa yang menyembah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka Muhammad
sekarang sudah wafat, dan barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha
Hidup tidak wafat, dan beliau lanjutkan: “Sesungguhnya engkau akan mati, dan
sesungguhnya mereka pun akan mati pula”. Dan membaca ayat: “Muhammad itu
tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa
orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang
(murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. Beliau berkata: Maka mulai
terdengar isak tangis para sahabat yang lain….”. (HR. Bukhori: 3670)

Dengan sepontan mereka
kembali ke jalan yang benar, seakan mereka baru pertama kali mendengarkan
ayat tersebut, Allah –Ta’ala- telah menyelamatkan kaum Muhajirin dan Anshar
dari kemurtadan, beberapa kelompok dari bangsa Arab sampai diperangi oleh
ash Shiddiq dan para sahabatnya, maka sebagian mereka kembali ke jalan yang
benar, dan sebagian kelompok yang lain tetap pada kekafiran mereka.

Baca juga: jawaban soal
nomor: 125919

Wallahu a’lam.

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android