Unduh
0 / 0

PENDUDUK RIYADH INGIN BERKUNJUNG KE SAUDARANYA DI JEDDAH DAN MENGIKUTI TRAVEL HAJI DARI SANA. DARI MANA DIA BERIHRAM UNTUK HAJI

Pertanyaan: 155453

Aku dan ibuku Insya Allah niat melakukan haji tahun ini. Kami dari penduduk Riyadh, apakah dibolehkan mengikuti travel dari Jeddah dan berhaji dari sana?. Perlu diketahui bahwa saudaraku belajar di Jeddah, kami berniat untuk mengunjunginnya, setelah itu kami menunaikan haji. Bagaimana cara ihramnya kalau kami ingin haji dari Jeddah sementara kami berasal dari Riyadh?

Puji syukur bagi Allah, dan salam serta berkat atas Rasulullah dan keluarganya.

Kalau anda berdua ingin menunaikan ibadah  haji dan melewati
Jeddah terlebih dahulu kemudian pergi bersama travel dari sana, hal itu
tidak mengapa. Cuma anda berdua harus berihram dari miqat anda yaitu Qornul
Manazil (Wadi Sail). Berdasarkan riwayat Bukhari, no. 1524 dan Muslim, no.
1181 dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, sesungguhnya Nabi
sallallahu alaih wa sallam menentukan miqat bagi penduduk Madinah,
Dzulhulaifah, bagi penduduk Syam, Al-Juhfah, bagi penduduk Najed, Qarnul
Manazil, bagi penduduk Yaman, Yalamlam. Miqat-miqat ini berlaku bagi
penduduk setempat dan bagi orang yang melewatinya, meskipun bukan dari
penduduk setempat, jika dia hendak melakuan haji dan umrah. Barangsiapa yang
(tinggal) sebelum miqat, maka hendaknya dia memulai (ihram) dari tempatnya,
bahkan termasuk penduduk Mekkah (berihram) dari Mekkah.”

Maka anda harus berihram
sebelum datang ke Jeddah, baik perjalanan lewat darat maupun lewat udara.
Jika  anda berdua ingin tinggal beberapa hari di Jeddah sebelum haji, maka
anda boleh pergi ke sana tanpa ihram.
Kemudian (jika hendak ihram) anda pergi ke Wadi Sail (Qarnal
Manazil) dan berihram dari sana kemudian bergabung dengan travel di Mina.

Syekh
Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Seseorang melewati miqat dalam keadaan
tahu dan sengaja, hanya sekedar ingin beristirahat dahulu. Contohnya,
melewati miqat Qarnul Manazil sampai di Syarai (tempat setelah miqat) untuk
beristirahat di tempat kerabatnya. Kemudian kembali lagi ke miqat dan
berihram darinya, karena dia ingin melakukan manasik haji, apakah dia
berdosa dengan melewati batas ini atau dalam masalah ini ada kemudahan?”

Beliau
menjawab, “Tidak apaapa. Masalahnya mudah. Tapi  yang lebih utama jangan
melewati miqat kecuali dalam kondisi berihram. Memungkinkan baginya untuk
beristirahat di tempat  kerabatnya dalam keadaan  berihram. Orang-orang
menganggap hal tersebut masalah biasa, tidak sungkan dan malu. Akan tetapi
kalau dia lakukan dan mengatakan, “Saya akan pergi dan istirahat dahulu
sekarang. Dan saya akan kembali ke miqat dan berihram darinya, hal itu tidak
mengapa.”

Penanya, ‘Waktunya seminggu?

Syekh,
“Tidak ada penghalang selamanya. Yang penting, anda melewati miqat dan
berniat akan kembali dan berihram darinya.”

Penanya, “Apakah diharuskan kembali ke miqat yang dilewatinya?”

Syekh,
“Dia diharuskan kembali ke miqat yang dilewatinya.”

Penanya, “Meskipun jauh atau dekat?”

Syekh,
“Baik jauh atau dekat.”

(Liqo Al-Bab Al-Maftuh)

Wallahua’lam
.

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android
at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android