Unduh
0 / 0

TERKENA PENDARAHAN DAN LUKA BERBAGAI GUMPALAN DI OTAK, APAKAH DIHARUSKAN BERPUASA?

Pertanyaan: 107885

Orang tua istriku terkena pendarahan dan berbagai gumpalan di otak. Semoga Allah memberi kesehatan kepada kami dan anda semua. Beliau tidak bergerak dan lumpuh total. Terkadang dapat mengangkat segelas air dengan bantuan untuk diminumnya. Dan tetap memegang gelas sejam kalau kami lupa karena tidak sadar kalau beliau telah minum. Ingatannya mungkin sudah hilang. Para dokter sepakat bahwa tidak mungkin sembuh kecuali hanya dari Allah. beliau dalam kondisi seperti ini, dan kondisinya memburuk sejak enam tahun alhamdulillah. Tidak cukup hanya dengan obat-obatan sehari-hari begitu juga dengan pengobatan tradisonal. Hal ini mengeluarkan ribuan (riyal) setiap bulan. Beliau tidak shalat sejak saat itu. pergi ke kamar mandi dibopong. Hidup sejak setahun atau lebih dengan membawa kantong kencing dan tidak dapat mengendalikan kencing atau berak. Sampai menjadi perhatian kami, mencoba dengan memberi arahan agar memberi tahukan kepada kami dengan isyarat. Tidak berbicara dan ingatannya tidak lebih hanya mengetahui keberadaan kami dan terlihat mimik wajahnya ketika mendengarkan cerita sedih. Kami berusaha dengan beliau agar dapat melakukan shalat meskipun dengan kedua (isyarat) kedua matanya. Akan tetapi tidak tahu dan tidak ingat ayat-ayat, tasyahud dan jumlah rakaat untuk setiap shalat fardu. Apakah ada kaffaroh untuk shalat, atau lebih khusus untuk puasanya? Apakah beliau termasuk dalam cakupan sakit yang disebutkan dalam kondisi kaffaroh orang puasa dan keluarganya harus memberi makan kepada satu orang miskin untuk sehari? Atau termasuk dalam kategori orang gila atau ada kelainan yang tidak ingat sehingga gugur kewajiban puasa dan shalat?

Puji syukur bagi Allah, dan salam serta berkat atas Rasulullah dan keluarganya.

Barangsiapa yang hilang ingatan atau berubah
akalnya sehingga tidak sadar, maka telah jatuh (kewajiban) puasa dan shalat.
Tidak ada kaffaroh baginya, karena diantara syarat taklif (terkena beban
kewajiban) adalah sehatnya akal.

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

( رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ
ثَلَاثَةٍ : عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى
يَحْتَلِمَ ، وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ ) رواه أبو داود (4403)
والترمذي (1423) والنسائي (3432) وابن ماجه (2041) قَالَ أَبُو دَاوُد :
رَوَاهُ ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَادَ فِيهِ
: ( وَالْخَرِفِ ) .

‘Diangkat pena (kewajiban) dari tiga
(golongan), orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai bermimpi (dewasa).
Dan orang gila sampai berakal (sehat). HR. Abu Dawud, 4403. Tirmizi, 1423.
An-Nasa’i, 3432. Ibnu Majah, 2041. Abu Dawud berkata, ‘Diriwayatkan oleh
Ibnu Juraij dari AL-Qosim bin Yazid dari Ali radhiallahu’anhu dari Nabi
sallallahu’alaihi wa sallam dan di dalamnya ada tambahan, ‘Tua rentah yang
hilang ingatan.’

Hadits dishohehkan Al-Albany di shoheh Abu
Dawud.

Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud’ dikatakan, ‘kata
‘Ak-Khorif’ adalah dari Al-Khorofa yaitu rusak pikiran karena tua. Subki
berkata, ‘Hal itu mengandung lebih dari tiga (golongan tadi) dan ini yang
benar. Maksudnya disini adalah orang tua renta yang hilang ingatan karena
tua. Karena orang tua renta terkadang bercampur akalnya yang menghalangi
untuk dapat membedakan. Dan mengeluarkannya dari taklif (beban kewajiban).
Tidak dinamakan gila. Tidak dikatakan dalam hadits, ‘Sampai berakal. Karena
kebanyakan tidak dapat sembuh sampai meninggal dunia. Kalau sekiranya pada
sebagian waktu kembali kesadarannya (akalnya), maka taklif (beban
kewajibannya) tergantung dengannya. ‘ selesai dengan ringkasan. Silahkan
melihat kitab ‘AL-Asybah Wan Nadhoir’ karangan Syuyuti hal. 212.

Syekh Ibn Utsaimin rahimahullah berkata,
‘Tidak diwajibkan melaksanakan puasa kecuali dengan syarat, yang pertama,
berakal. Kedua, baligh. Ketiga, Islam. Keempat, mampu. Kelima, bermukim.
Keenam, tidak ada haid dan nifas bagi para wanita.

Pertama, berakal. Kebalikannya hilangnya
akal. Baik hilang akal karena tua yakni tua renta. Atau kecelakaan yang
menghilangkan akal dan perasaannya. Dia tidak ada kewajiban apapun. Karena
hilang akalnya. Dari sini, maka orang tua yang sampai pada batasan renta
tidak ada kewajiban puasa dan tidak juga memberi makan. Karena tidak
berakal. Begitu juga orang pingsan karena kecelakaan atau lainnya. Maka dia
tidak ada kewajiban puasa juga tidak memberi makan. Karena dia tidak
berakal. Selesai dari ‘Liqo’ Bab AL-Maftuh, 4/220.

Beliau juga mengatakan, ‘Barangsiapa yang
hilang akalnya karena tua atau kecelakaan yang tidak ada harapan sembuh.
Maka dia tidak diwajibkan berpuasa seperti orang tua renta yang sampai pada
umur tidak jelas bicaranya. Maka dia seperti bayi tidak ada kewajiban
berpuasa. Bagitu juga orang yang mendapatkan kecelakaan, sehingga hilang
akalnya yang tidak ada harapan sembuh. Kalau ada harapan sembuh, karena
pingsan saja. Kalau sadar, dia harus mengqodo’nya. Akan tetapi kalau akalnya
hilang secara keseluruhan, maka dia tidak ada kewajiban puasa. Yakni ketika
tidak berpuasa, tidak ada kewajiban fidyah baginya. Selesai dari ‘Syark
AL-Kafi, dengan sedikit diedit.

Yang nampak, dia tidak ada kewajiban shalat
dan puasa, tidak ada kewajiban memberi makan pengganti puasa.

Wallahu’alam.

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android
at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android