Unduh
0 / 0
3948214/09/2012

Apakah Terdapat Hadits Yang Menjelaskan Bahwa Istri Umar Rdliyallahu Anhu Dulu Pernah Berkata Keras Di Hadapan Umar Sehingga Umar Terdiam Karenanya Dan Bersabar Atas Kejadian Tersebut?

Pertanyaan: 179442

Semoga Allah Ta’ala selalu mengasihi anda dan mohon penjelasannya tentang kabar yang tersebar luas di internet pada masa ini yang menyebutkan bahwa ada seorang lelaki yang marah kepada istrinya karena dia telah berkata keras kepadanya. Lalu dia beranjak pergi menemui Umar bin Al Khatthab untuk mengadukan kasus istrinya kepada beliau. Ketika dia telah sampai di depan rumah Umar dan hendak mengetuk pintu tiba-tiba dia mendengar istri Umar berkata keras melebihi suara Umar. Kemudian secepat kilat dia kembali – tidak jadi menemui Umar –. Bagaimanakah kebenaran khabar ini apakah dia shahih? Jika memang Shahih, apakah dapat dijadikan sebagai argumentasi dibolehkannya seorang istri bersuara keras melebihi suara suaminya?

Puji syukur bagi Allah, dan salam serta berkat atas Rasulullah dan keluarganya.

..

Pertama :

Kisah ini yang
selengkapnya adalah, bahwa seorang lelaki datang kepada Umar guna mengadukan
perilaku dan akhlak istrinya kepada beliau. Lalu dia berdiri di depan pintu
rumah Umar menunggu beliau tiba-tiba dia mendengar istri Umar berbicara
panjang lebar di hadapan beliau sedang beliau hanya terdiam tidak membalas
pembicaraan istrinya.
Kemudian
lelaki tadi beranjak pergi seraya bergumam,
‘Jika
memang seperti ini kondisi Amirul Mukminin Umar bin Khatthab bagaimana
dengan keadaan saya sendiri?’
Kemudian
Umar-pun keluar rumah dan melihatnya pergi meninggalkan rumahnya lalu beliau
memanggilnya,
‘Apa
keperluanmu wahai saudaraku?’
Lelaki inipun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin saya datang untuk mengadukan
akhlaq dan perilaku istriku serta omongannya kepadaku, lalu aku mendengar
sendiri istri anda juga melakukan hal yang sama. Maka akupun beranjak pergi
seraya bergumam, ‘Jika memang seperti ini kondisi Amirul Mukminin Umar bin
Khatthab dengan istrinya, maka bagaimanakah dengan keadaan saya sendiri?”

Lalu Umar pun
berkata kepadanya, “Sesungguhnya saya bersabar kepadanya karena memang dia
memiliki hak-hak yang harus saya penuhi.
Sungguh
dia memasak makanan buat saya, membuatkan roti untuk saya, mencuci pakaian
saya dan menyusuai anak-anak saya.
Padahal
yang demikian
itu bukan
merupakan kewajiban atasnya.
Sementara,
di sisi yang lain hatiku
merasa
tentram
dengannya sehingga mencegahku
dari hal-hal yang haram.
Oleh
sebab itu aku bersabar terhadap sikapnya yang demikian tersebut.
Kemudian
lelaki tersebut berkata,
“Wahai
Amirul Mukminin,
apakah
demikian pula dengan istri saya?”
Umar pun berkata,
“Maka
bersabarlah anda dengan sikapnya wahai saudaraku karena sesungguhnya hal itu
hanya beberapa saat saja.”

Sesungguhnya
kisah ini kami tidak mendapatkan asal muasalnya.
Tidak
pula kami dapati  seseorang dari ulama yang membicarakan terkait hadits
tersebut sedikitpun.
Akan
tetapi hadits tersebut disebutkan oleh As syaikh Sulaiman bin Muhammad Al
Bujairmi al Faqih As Syafii dalam kitab Hasyiyah Ala Syarhil Manhaj (3/
142-144), sebagaimana yang disebutkan juga oleh Abu al-Laits As Samaraqandi
al Faqih al Hanafi dalam kitabnya    “Tanbihul Ghaafilin” (hal.
517),
demikian juga Ibnu Hajar Al Haitsami menyebutkan dalam kitabnya “Az zawajir
” (2/80) dan beliau tidak menyebutkan satupun sanadnya..
Bahkan
mereka semua yang meriwayatkan menggunakan lafadz,

“Disebutkan bahwa seorang lelaki, atau diriwayatkan bahwa seorang lelaki”.
Ungkapan
seperti ini mengandung
tidak shahihnya
sebuah riwayat
yang mengarah kepada
lemahnya
riwayat   tersebut.
Hal
inilah yang menunjukkan bahwa kisah tersebut tidak Shahih, dan yang demikian
dikuatkan oleh hal-hal berikut :


Bertentangan dengan
riwayat-riwayat yang masyhur tentang Umar Radliyallahu Anhu dalam sirahnya
bahwa beliau adalah sosok pribadi yang sangat berwibawa di tengah masyarakat,
maka apalagi di hadapan istri-istri beliau?

-Dalam
sebuah riwayat
cIbnu
Abbas Radliyallahu Anhuma berkata 

مكثت

سنة

أريد

أن

أسأل

عمر

بن

الخطاب

عن

آية

فما

أستطيع

أن

أسأله

هيبة

له
)رواه

البخاري، رقم
4913

ومسلم، رقم
1479)

“Aku tinggal
menetap selama setahun bersama Umar bin Al Khatthab ingin menanyakan tentang
satu ayat dalam Al Qur’an, akan tetapi aku enggan bertanya kepadanya karena
kewibawaan beliau.”
(HR.
Bukhari,
no.
4913 dan  Muslim,
no.
1479)

Dan dalam riwayat
lain, dari
Amr bin Maimun dia berkata: 

شَهِدْتُ

عُمَرَ

رَضِيَ

اللَّهُ

عَنْهُ

يَوْمَ

طُعِنَ

فَمَا

مَنَعَنِي

أَنْ

أَكُونَ

فِي

الصَّفِّ

الْأَوَّلِ

إِلَّا

هَيْبَتُهُ،

وَكَانَ

رَجُلًا

مَهِيبًا
(حلية

الأولياء،
4/151)

“Aku menyaksikan
pada hari di mana Umar Radliyallahu Anhu ditikam.
Tidaklah
ada
yang
mencegahku untuk berada di shaf pertama melainkan karena kewibawaan beliau,
karena dia adalah seseorang yang sangat berwibawa.”
(Hilyatul
Auliya, 
4/151). 


Kerasnya suara
istri Umar di hadapan beliau Radliyallahu Anhuma hingga terdengar siapa saja
yang berada di luar rumah sedang beliau hanya terdiam, adalah suatu yang
mungkar dan tiada beralasan.
Bagi
siapa saja yang mengetahui kondisi Amirul Mukminin pasti akan mengingkari
yang demikian tersebut.
Karena
setan pun takut kepada Umar.
Seandainya
Umar berjalan di satu titian jalan maka pastilah setan akan memilih jalan
selain jalan yang dilalui oleh beliau, dan para wanita yang meninggikan
suara-suara mereka di hadapan para suami mereka tidak pernah di dapat dalam
sejarah para salaf. 


Terkait perkataan
beliau tentang, “Sesungguhnya dia memasak makanan buat saya, membuatkan roti
untuk saya, mencuci pakaian saya dan menyusui anak-anak saya, dan bukanlah
yang demikian tersebut merupakan kewajiban atasnya.”
Merupakan
ungkapan yang tidak benar.
Karena
pelayanan istri kepada suaminya secara baik merupakan hal yang wajib atasnya.
Perhatikan
kembali jawaban soal no.  119740,
 khususnya
tentang
menyusui,
bahwa
seorang istri wajib menyusui putra-putrinya apabila dalam
asuhan
suaminya. Hal
itu dilakukannya dengan tanpa ada upah.
Lihat
kembali jawaban soal no. 130116.

Ringkasnya,
bahwa
kisah ini tidak ada asal-muasalnya, dan matannya
mengindikasikan kemungkaran dan ketidak benaran.

Atas dasar itu,
maka
tidak dibenarkan menjadikan dalil dengan kisah tersebut dibolehkannya
seorang istri
mengeraskan
suaranya di hadapan suaminya.

Kedua :

Seorang istri yang
meninggikan suaranya dihadapan suaminya merupakan gambaran adab yang buruk
dan tidak adanya keharmonisan, dan yang demikian dilarang.

Syaikh Ibnu
Utsaimin ditanya,
“Bagaimana
hukumnya seorang istri yang meninggikan suaranya dihadapan suaminya dalam
urusan-urusan rumah tangga?”

Beliau Rahimahullah
Ta’ala menjawab,
“Kami katakan bagi istri yang semacam ini bahwa meninggikan dan mengeraskan
suara di hadapan suami merupakan cerminan adab yang buruk.
Karena
seorang suami adalah pemimpin baginya dan yang menaunginya,
maka
sudah sepantasnya dia memuliakan
suaminya yang ketika berbicara kepadanya harus dengan adab dan sopan santun.
Karena
sesungguhnya yang demikian sangat lebih dipentingkan agar hubungan keduanya
tetap abadi dan senantiasa
dihiasai
dengan kasih sayang antara keduanya.

Demikian pula
dengan suami maka dia juga harus mempergauli istrinya secara baik, yaitu
saling timbal-balik dalam memberikan kebaikan, Allah Ta’ala berfirman :

وَعَاشِرُوهُنَّ

بِالْمَعْرُوفِ

فَإِنْ

كَرِهْتُمُوهُنَّ

فَعَسَى

أَنْ

تَكْرَهُوا

شَيْئاً

وَيَجْعَلَ

اللَّهُ

فِيهِ

خَيْراً

كَثِيراً
(سورة النساء: 19)

“Dan bergaullah
dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak ”. (QS An Nisaa: 19)

Maka nasihatku
untuk istri yang semacam ini hendaklah dia bertakwa kepada Allah ‘Azza wa
Jalla terhadap diri dan suaminya, dan hedaklah dia tidak meninggikan
suaranya di depan suaminya, terlebih lagi jika suaminya berbicara kepadanya
dengan suara yang lembut dan tenang”.

(Dari
kumpulan Fatawa Nuurun Ala ad Darbi,
2/19.,
dengan edisi
penomoran yang sempurna)
Sebagai tambahan,
 lihat kembali jawaban soal no.  125374

Wallahu Ta’ala
A’lam.

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android
at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android