Unduh
0 / 0
1900722/02/2014

Apakah Menyampaikan Khutbah Id Di Atas Mimbar Adalah Bid’ah?

Pertanyaan: 210286

Apa hukum menyampaikan khutbah Id di atas mimbar? Saya mendengar dari sebagian teman yang berkata, ‘Sesungguhnya dia merupakan bid’ah yang nyata’ Apakah ini benar?

Puji syukur bagi Allah, dan salam serta berkat atas Rasulullah dan keluarganya.

Pertama:

Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak
pernah berkhutbah di atas mimbar berdasarkan pendapat yang kuat.

Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab
shahihnya, 2/17, “Bab Keluar Ke Tempat Shalat Id Tanpa Mimbar”

Kemudian beliau meriwayatkan, no. 956, dari
Abu Said Al-Khudry, dia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke mushalla (tanah lapang
untuk shalat). Yang beliau lakukan pertama kali adalah shalat, kemudian
selesai, lalu beliau berdiri menghadap jamaah sedangkan jamaah duduk di
barisan mereka, lalu beliau menasehati dan berwasiat kepada mereka serta
memberikan perintah kepada mereka, apabila dia hendak mengirim utusan, maka
dia memotongnya, atau dia hendak memerintahkan sesuatu, maka dia
memerintahkannya, setelah itu selesai.”

Abu Said berkata, “Praktek tersebut terus
berlangsung hingga zaman Marwan,  yang saat itu menjadi gubernur Madinnah,
beliau keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Ketika kami datang, sudah
ada mimbar yang dibangun oleh Katsir bin Shalt. Tiba-tiba Marwan hendak naik
mimbar sebelum shalat, maka aku Tarik bajunya, namun dia tarik kembali
bajunya, lalu dia naik mimbar dan berkhutbah sebelum shalat. Maka aku
katakan kepadanya, “Engkau telah merubah (syariat) demi Allah.” Dia berkata,
“Apa yang engkau ketahui demi Allah telah berlalu.” Aku katakana, “Apa yang
aku ketahui lebih baik dari apa yang tidak aku ketahui.” Dia berkata,
“Orang-orang tidak lagi bersedia duduk mendengarkan khutbah kami setelah
shalat, maka aku menjadikannya sebelum shalat.”

Ibnu Qayim rahimahullah berkata, “Asalnya
tidak ada mimbar yang dinaiki, saat itu belum dibuatkan mimbar Madinah.
Beliau (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah sambil berdiri di
atas tanah. Jabir berkata, “Aku menyaksikan shalat Id bersama Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, beliau mulai dengan shalat sebelum khutbah, 
tanpa azan dan iqamah, kemudian beliau berdiri sambil bersandar dengan
Bilal, beliau memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan taat kepadaNya.
Beliau menasehati dan mengingatkan jamaah, kemudian beliau berlalu
mendatangi tempat kaum wanita dan memberikan nasehat kepada mereka.”
(Muttafaq alaih)

Zaadul Ma’ad, 1/429)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Keseringan
dari khutbah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dilakukan di atas
mimbar masjid, kecuali khutbah dua Id dan di musim haji serta semacamnya.”
(Fathul Bari, 3/403)

Lihat jawaban soal no. 49020.

Kedua:

Kedua:

Tidak selayakanya masalah ini diributkan atau
menyebabkan terjadimya perpecahan di kalangan kau muslimin. Tidak layak pula
tergesa-gesa menghukumi bid’ah. Seandainya masalah tersebut semata-mata
adalah bid’ah, tentunya Abu Said radhiallahu anhu akan mengingkarinya,
sebagaimana dia mengingkari Marwan yang mendahulukan khutbah sebelum shalat.

Walaupun petunjuk yang shahih dari Nabi
shallallahu alaihi wa sallam adalah tidak mengeluarkan mimbar (dari masjid
ke lapangan shalat), hanya saja diharapkan bahwa perkara ini bersifat luas,
khususnya jika ada kebutuhan adanya mimbar untuk khutbah di lapangan tempat
shalat.

Ibnu Bathal rahimahullah berkata dalam Syarah
Al-Bukhari, 2/554, Asyhab berkata dalam Al-Majmu’ah, “Di adakannya mimbar di
shalat dua Id  bersifat luas, jika suka dibuatkan, jika tidak dibiarkan
(tanpa mimbar)”

Syekh Ibnu Utaimin rahimahullah pernah
ditanya, “Apakah disunahkan seorang imam berkhutbah di atas mimbar dalam
shalat Id?”

Beliau menjawab, “Sebagian ulama berpendapat bahwa hal
tersebut merupakan sunah, karena dalam hadits Jabir radhiallahu anhu
diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah,
kemudian dia berkata, ‘Lalu beliau (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam)
turun dan menemui kaum wanita.” Mereka berkata, “Turun, berarti dia berada
di suatu tempat yang tinggi.’ Inilah yang hingga sekarang dipraktekkn.
Sebagian ulama berpendapat bahwa berkhutbah tanpa mimbar lebih utama.

Perkara dalam urusan ini luas insya Allah. (Majmu Fatawa Wa
Rasail Ibnu Utsaimin, 16/350)

Wallahu ta’ala a’lam.

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Langganan Layanan Surat

Ikut Dalam Daftar Berlangganan Email Agar Sampai Kepada Anda Berita Baru

phone

Aplikasi Islam Soal Jawab

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android